Kemenangan Yang Hampir

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata (Surah al-Fath 48:1)

Memaknai Hidup Dengan Perjuangan

Jadilah penolong-penolong agama Allah dalam menegakkan agamaNya di muka bumi ini

Kalam Murabbi

Amanat Untuk Pemuda dan Pemudi

Kesatuan Ummah

Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu perkara, maka kembalilah kepada Allah dan Rasul (Surah An-Nisa’4:59)

Pedulisme dan Faham

Barangsiapa tidak mengambil berat tentang urusan umat Islam, maka bukanlah mereka daripada kalangannya (HR al-Bukhari)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
“Sesungguhnya perjuangan itu tidak mengenal erti penat & lelah. Demi Islam tercinta, ia perlu diteruskan. Semoga usaha untuk menyampaikan risalah Islam ini diterima Allah sebagai salah satu amal jariah semasa menghadap-Nya pada suatu hari yang pasti akan tiba..”
blog's design by faizassyirazi. Powered by Blogger.

Follow by Email

Friday, 31 January 2014

Keluarga: Madrasah Pembentukan Manusia

Memiliki Keluarga Suatu Nikmat Terbesar

Lingkungan keluarga bagi manusia merupakan madrasah yang sangat bernilai dan apabila manusia memahaminya dengan baik, maka ia akan memberikan kesempatan untuk membentuk dirinya dan begitu juga orang lain.

Suatu hal yang mendapat penekanan serius dalam Islam adalah membentuk diri, sebagaimana kita punya kewajiban menyucikan diri, pada saat yang sama kita juga ada kewajiban membentuk orang lain. Justeru, untuk membentuk orang lain, langkah pertama dan yang paling penting adalah membentuk keluarga. Allah SWT dalam Surah at-Tahrim ayat 6 berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..."

Ketika Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah SWT, baginda s.a.w. mendapat perintah untuk memperingatkan keluarganya. Antara kata lainnya adalah membentuk masyarakat harus dimulai dari membentuk keluarga sendiri. Allah SWT dalam surat As-Syu'ara ayat 214 berfirman, "Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat." Itu bererti membentuk masyarakat dimulai dari membentuk keluarga. Dengan demikian, bentuk dahulu keluargamu, dan setelah itu teruskan dengan membentuk masyarakat.

Membentuk diri, isteri dan anak-anak merupakan kewajiban besar seorang ayah dan kewajiban ini hanya mampu dilakukan dengan kesabaran. Kita harus sedar bahawa semua ada aliran pemikiran menyebut rumah sebagai tempat terbaik untuk membentuk diri, mendidik anak dengan benar dan pertumbuhan spiritual mereka.

Keluarga, Madrasah Pembentukan Manusia

Lingkungan keluarga merupakan tempat bagi sair-suluk dan penyempurnaan lelaki dan wanita. Lebih-lebih lagi bila kita memiliki jiwa yang besar. Ucapan punya pengaruh, tapi perilaku memiliki pengaruh yang lebih baik dan sesuai dengan yang diinginkan. Bila seseorang untuk kali pertama dinasihati dan tidak mahu mendengar, pada akhirnya akan mendengar juga dan mahu melakukan nasihat itu akibat pengulangan dan tekanan. 

Hal ini dapat dilakukan disebabkan kesabaran dan jiwa besar yang luar biasa. Salah satu perilaku yang sering dilakukan ahli psikologi agar ucapan mereka didengar adalah pengulangan. Tapi perbuatan tentu lebih berpengaruh. Sebagaimana bila suami melakukan solat di awal waktu, maka dengan sendirinya isteri juga mengikutinya. Bila suami bertutur dengan baik dan sesuai dengan akhlak, maka itu juga akan berpengaruh kepada isteri dan anaknya. Survei membuktikan anak yang beradab memiliki orang tua yang beradab dan begitu juga sebaliknya.



Falsafah Pernikahan Adalah Menyucikan Jiwa

Dari sini, penting bagi suami dan isteri berusaha mencapai kesempurnaan sebagai teras keluarga. Keduanya saling membantu untuk meraih kesabaran dan rasa syukur yang merupakan pasak keimanan. Islam tidak melihat pembentukan keluarga semata-mata untuk memenuhi keperluan syahwat, sekalipun masalah ini juga satu hal yang penting dan bahagian dari falsafah pernikahan. Islam memerintahkan pemuda dan pemudi baligh yang memerlukan pernikahan untuk membentuk keluarga demi melindungi etika umum di tengah masyarakat. 

Lebih penting lagi, di sebalik perintah membentuk keluarga ada tujuan lain iaitu untuk menyucikan diri. Kerana lingkungan keluarga merupakan madrasah terbaik untuk membentuk diri dan meraih kesempurnaan. Bila manusia tidak memanfaatkan dengan baik lingkungan keluarganya bagi kehidupannya atau terjadi perceraian, maka jangan menyalahkan Islam, tapi diri kita semua ikut bersalah. Banyak faktor dibawa dalam kehidupan manusia yang membuat lingkungan keluarga menjadi dingin yang berhujungkan perceraian.


Mensyukuri Nikmat Besar Bernama Keluarga

Seharusnya kita mengetahui bahawa nikmat terbesar bagi lelaki dan wanita adalah nikmat keluarga. Manusia tidak boleh melupakan Allah SWT setelah membentuk keluarga. Ini kerana dalam institusi keluarga perlu ada peningkatan spiritual dan semua pihak harus memanfaatkan nikmat besar ini sebaik-baiknya.

Allah SWT yang Maha Bijaksana menciptakan lelaki untuk wanita dan begitu pula sebaliknya, wanita untuk lelaki agar dapat membentuk institusi bernama keluarga. Dalam institusi ini dapat diraih ketenangan dan kepuasan. Itulah mengapa lingkungan keluarga harus dipisahkan dari kecemasan dan kegelisahan. Al-Quran menjelaskan lingkungan keluarga sebagai tempat yang isinya dipenuhi dengan kasih sayang dan rahmat.


Dengan demikian, setiap perilaku dan ucapan yang menyebabkan dinginnya institusi keluarga merupakan satu bentuk pengkufuran nikmat. Sebuah rumah yang telah disemai dengan prasangka dan ketidakpercayaan tidak layak menjadi tempat diturunkannya berkah dan rahmat Allah, tapi menjadi tempat kemurkaan Allah. Tempat yang semula aman, menyenangkan dan tenang berubah menjadi pusat kecemasan, kebencian dan beragam penyakit jiwa.

*Petikan dan olahan semula dari irib.ir

Tuesday, 14 January 2014

Ada Apa Dengan 12 Rabiul Awal

Tanggal 12 Rabiul Awal 53 tahun sebelum Hijrah, berdasarkan catatan sebahagian sejarawan, di antaranya Mas'udi, Rasulullah s.a.w. dilahirkan ke dunia. Namun, ada pandangan yang menyatakan bahawa tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw adalah 9, atau 10 (dan juga 17 Rabiul Awal). Tiada apa yang perlu diperbalahkan kerana perbezaan pandangan mengenai tarikh sebenar kelahiran Nabi s.a.w. Apa yang penting, jumhur Ulama bersepakat bahawa baginda dilahirkan dalam bulan Rabiul Awwal.



Masjid Pertama Didirikan

Tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama Hijrah, Rasulullah s.a.w. mendirikan masjid pertama dalam Islam di sebuah daerah bernama Quba, berhampiran Madinah. Pembinaan masjid itu dilakukan ketika Rasulullah s.a.w. dalam perjalanan beliau hijrah dari Mekah ke Madinah, dan singgah di Quba untuk menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib r.a dan rombongannya.


Pada malam sebelumnya ketika Rasulullah hendak berhijrah, Saidina Ali r.a baring di tempat tidur Rasulullah s.a.w. untuk mengaburi kaum musyrik yang berniat membunuh Rasulullah s.a.w. Setelah itu, beliau tinggal selama tiga hari di Mekah dan kemudian bersama beberapa sanak saudaranya, menyusul Rasulullah s.a.w dan Abu Bakar r.a berhijrah ke Madinah.Masjid Quba yang bersejarah itu sehingga kini masih kukuh berdiri meskipun mengalami banyak perubahan.

Ahmad bin Hanbal r.a Meninggal

Tanggal 12 Rabiul Awal tahun 241 Hijriah, Ahmad bin Hanbal, seorang Ulama Hadis muktabar lagi terkemuka, meninggal dunia di kota Bagdad. Dia dilahirkan pada tahun 164 Hijriah di Baghdad dan menghabiskan pengajiannya di kota tersebut, juga di kota-kota lainnya. Ahmad bin Hanbal menuntut ilmu dari pelbagai ulama, di antaranya Imam Syafi'i r.a.


Ahmad bin Hanbal amat rajin dalam mengumpulkan hadis sehingga dia melakukan perjalanan ke kota Kufah, Basrah, Mekah, Madinah, Syria, Yaman, dan Aljazair, dalam rangka mengumpulkan hadis. Hadis-hadis tersebut kemudian dikumpulkannya dalam sebuah buku bernama Musnad bin Hanbal. Ahmad bin Hanbal juga merupakan pengasas mazhab Hanbali.


Petikan & Olahan: IRIB

.....

"Dis: «Si vous aimez vraiment Allah, suivez-moi, Allah vous aimera alors et vous pardonnera vos péchés. Allah est Pardonneur et Miséricordieux" (3:31)

Salam Maulidur Rasul 1435 H

Monday, 13 January 2014

What Media Won’t Tell You About Ariel Sharon

Throughout his tenure in various positions, including Prime Minister, or as head of the conservative Likud party, Ariel Sharon was widely seen by many in the Middle East and elsewhere as hateful of Arabs, careless of their plight, and unflinching in preventing Palestinians statehood, even as he pretended to work towards it with his Arab counterparts.


Sharon did many things for Israel: he increased security, favored settlers, and lived a storied life of military and government service that spanned 60 years. But there are those whose lives have been made much worse by some of his decisions, and in the interest of learning from history's mistakes, those decisions should not be forgotten.

Here are five important moments from his life, where we shouldn't forget the entire picture:

1. Sharon’s Controversial Military Career

Ariel Sharon led a colorful career in the Israeli Defense Force (IDF). Of his more storied actions is the leadership of the infamous “Unit 101” — a company-sized unit of the Israeli Special Forces whose mission it was to carry out reprisal attacks against Palestinian militants who attacked Israel. With Sharon at the helm, they received their orders directly from IDF General Staff and carried out various raids into Arab areas.


One such raid in 1953, after just one month of training, was an exercise in the Gaza Strip inside a Palestinian refugee camp that ended in the death of 20 Arabs. The attack was internationally condemned as deliberate mass murder. But the Qibya massacre two months later, also carried out by the Unit and support troops of the IDF, made the Gaza incident look like a minor border skirmish. The attack ended in the death of 69 people, including many women and children who died inside their homes as they were blown up. As international condemnation reached a pinnacle, Israel denied that the IDF was responsible, instead blaming it on radical Israeli citizens.

Sharon (2nd left) sitting in a jeep during a tour on October 1973

2. The 2003 Plan To Pull Out Of The Gaza Strip

While many may herald Sharon as a peacemaker for ordering the withdrawal of IDF forces from the Gaza Strip in 2003, others have a valid argument that this was a cunning move meant to stall any further cooperation with the Palestinians.


In public, Sharon spoke of the decision as a way to take the reins and make peace before the Palestinian contingency did. However, in an interview with Haaretz, Dov Weisglass, Sharon’s former chief of staff, close personal aid, and point man with the United States on President Bush’s “Road Map for Peace” that would have set Palestinians and Israelis on a path towards a two-state solution, stated that the Gaza disengagement plan, “supplies the amount of formaldehyde that is necessary so there will not be a political process with the Palestinians."

He went on to say that, “you prevent the establishment of a Palestinian state, and you prevent a discussion on the refugees, the borders and Jerusalem (sharing the city with Arabs).”

Sharon’s secret meeting with Eliot Abrams, at the time the Senior Director for Near East and North African Affairs on the U.S. National Security Council (NSC), in which he mentioned his plan to impose his own settlement on the Palestinians, outlined his true motives.


3. His September 2000 Visit To The Temple Mount

Sharon’s timing for this could not have been worse, and his visit to Islam’s third holiest site at the end of Ramadan while accompanied by about 1,000 Israeli policemen is said to have helped catalyze the second Palestinian intifada (uprising).


In fairness, hostility had already come to a roiling boil prior to this event due to the gradual breakdown of the Oslo Accords that would have hammered out a solution between the sides, but Sharon knew the potential consequences of how he timed his actions and visited anyway, playing into the hands of Palestinian radicals (read: resistant) who were looking for an opportunity to violently rebel. In fact, more moderate Palestinian leaders asked U.S. and Israeli officials to keep Sharon from visiting the site, knowing that it would incite a dangerous reaction. But Sharon, knowing this would help him win the coming election for Prime Minister against Benjamin Netanyahu, paid them no mind.

4. The Sabra and Shatilla Massacre

While an Israeli fact-finding committee determined that Sharon was not directly responsible for the massacre of hundreds of Arabs, they did find that he was fully aware of the entry of radical Christian Phalangists that laid siege to the camp under Israeli watch and committed the atrocities. 



Sharon, who at the time was defense minister under Menachem Begin, was the one who masterminded the 1982 IDF invasion into Lebanon, which precipitated the event. While the Israeli Army’s main mission in Lebanon was to root out Palestine Liberation Organization (PLO) extremists that had been shelling northern Israel, Israel made allegiances with many different armed Christian militias in Lebanon and funded, trained, and met with them on a regular basis, including the Phalangist group responsible for the atrocities.











Ultimately, Sharon was found responsible for not performing due diligence to make sure that the heinous acts were prevented, and was forced to resign.

5. Sharon And The Infamous Security Barrier

During President George W. Bush’s attempt to bring peace between Israelis and Arabs, Sharon refused to cooperate on a key issue: halting construction on Israel’s barrier against the West Bank that was meant to keep out suicide bombers, but also conveniently juts deep into the West Bank, allowing for further Israeli settlement and carving up the potential future location of a Palestinian state alongside Israel.


The barrier has ultimately made it more difficult for Arabs in their day to day lives, causing them economic trouble, familial hardship, and making it far more difficult to create a future state of their own based on agreeable boundaries.


During talks over President Bush’s “Road Map for Peace” that was meant to bring Israeli and Palestinian leadership to agreement on a final deal, Palestinian Prime Minister Mahmoud Abbas said that, “If the settlement activities in Palestinian land and construction of the so-called separation wall on confiscated Palestinian land continue, a free Palestine state living side by side in peace and security in Israel is a virtual impossibility.”






Reaksi Rakyat Palestin


Palestinians set light poster Ariel Sharon



Source: http://www.policymic.com & Google (picture)

..........

P/s: Kematiannya sebelum sempat dibicarakan di mahkamah dunia cukup memalukan. Sememangnya dia tidak layak dibicarakan di mahkamah dunia kerana terlalu banyak jenayah yang dilakukan ke atas umat Islam khususnya di bumi Palestin. Di zaman kekuasaannya juga kita menyaksikan pembunuhan kejam dan terancang terhadap sejumlah pemimpin Hamas termasuklah al-Syahid Syaikh Ahmed Yasin, Dr. Rantisi, Yahya Ayyash, Salah Syahadeh, dan demikian juga pejuang Islam dari Lubnan. Apa yang pasti, mahkamah Allah di akhirat kelak lebih layak untuk menghukumnya.

Wednesday, 8 January 2014


Allah never asks about the result, but He will ask about what effort that we have made. Whatever difficulties we are facing either in study, job, or to fulfill other people necessity, each of the difficulties will give rewards and His blessing, so far we do it for His sake.

Keep calm, stay warm